Makalah PKN Tentang Globalisasi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang Masalah
Globalisasi,
mungkin kata itu sering kita dengarkan di televisi, radio, surat kabar ataupun
percakapan sehari-hari. Kata globalisasi sendiri muncul pada dekade akhir abad
ke-20. Globalisasi
merupakan perkembangan kontemporer yang mempunyai pengaruh dalam
mendorong munculnya berbagai kemungkinan tentang perubahan dunia yang akan
berlangsung.
Pengaruh globalisasi dapat menghilangkan berbagai halangan
dan rintangan yang menjadikan dunia semakin terbuka dan saling bergantung satu
sama lain. Globalisasi akan membawa perspektif baru tentang konsep “Dunia Tanpa
Tapal Batas” yang saat ini diterima sebagai realitas masa depan yang akan
mempengaruhi perkembangan budaya dan membayar perubahan baru.
Globalisasi telah
menjadikan pertukaran barang dan jasa dengan mudah terjadi melewati batas-batas
teritorial negara. Globalisasi
menjadikan dunia seperti Global Village. Dengan adanya Globalisasi,
negara-negara dapat dengan mudah melakukan suatu interaksi, bahkan individu
dalam suatu negara dengan individu di negara lain dapat dengan mudah melakukan
suatu interaksi, baik dalam hal komunikasi, pertukaran komoditi, pertukaran
informasi, dan lainnya.
Globalisasi menjadi suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang
bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia
global itu. Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat
akselerasi proses globalisasi ini. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting
kehidupan. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru
yang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk
kepentingan kehidupan.
1.2. Identifikasi Masalah
1.2.1. Bagaimana
pengaruh Globalisasi terhadap budaya?
1.2.2. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi budaya?
1.2.3. Upaya apa untuk mengatasi pengaruh Globalisasi terhadap
budaya?
1.3.
Tujuan Penulisan
Berdasarkan
identifikasi masalah diatas,
penulisan ini bertujuan untuk :
a) Mengetahui
pengaruh globalisasi terhadap keberagaman budaya
bangsa.
b) Untuk
meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjunjung tinggi kebudayaan bangsa
sendiri karena kebudayaan merupakan jati diri bangsa.
c) Memahami
lebih dalam tentang Globalisasi.
d) Memenuhi tugas mata pelajaran PKN.
1.4.
Manfaat Penulisan
Dalam penyusunan makalah ini penulis mendapatkan beberapa manfaat, diantaranya menambah wawasan penulis tentang globalisasi, dan pengaruhnya terhadap berbagai aspek
kehidupan khususnya pada kebudayaan bangsa Indonesia.
1.5.
Kerangka
Pemikiran dan Hipotesis
1.5.1. Kerangka
Pemikiran
Keragaman
budaya dari berbagai belahan dunia membentuk budaya global dan keragaman budaya
di nusantara sehingga tidak menjadi pemecah persatuan bangsa. Pudarnya bentuk kawasan
regional yang diterpa globalisasi diikuti oleh timbulnya orientasi-orientasi
baru, dan membuat masyarakat dunia dapat mengidentifikasi diri dalam proses
pembentukan identitas sosial masing-masing. Salah satu orientasi penting adalah
timbulnya kutub-kutub budaya. Sebagaimana yang dapat kita lihat di berbagai penjuru dunia,
terjadi arus kebangkitan budaya sebagai aspek penting dalam proses globalisasi.
1.5.2. Hipotesis
Globalisasi
memberi dampak yang meluas pada keberagaman budaya. Dimana budaya
suatu bangsa bisa berubah dan terpengaruh oleh budaya-budaya lain. Bahkan dalam
jangka waktu yang lama kebudayaan asli suatu bangsa dapat hilang digantikan
oleh kebudayaan asing yang sudah mendunia. Dunia menjadi semakin beragam dari
segi komposisi budaya etnik, ras, dan warna kulit. Perkembangan yang terjadi
saat ini membawa perubahan keanekaragaman budaya yang bersifat pluralisme dan multikulturalisme. Pudarnya budaya bangsa masih dapat
dicegah dengan beragam cara namun yang paling penting adalah rasa cinta
masyarakat itu sendiri terhadap budaya yang dimilikinya.
1.6.
Metode Penulisan
Metode yang di pakai dalam karya tulis ini adalah studi
kepustakaan yaitu metode
yang dilakukan dengan mempelajari dan mengumpulkan data dari pustaka yang
berhubungan dengan alat, baik berupa buku maupun artikel.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Globalisasi
Menurut
asal katanya, kata “globalisasi” diambil dari kata global yang maknanya ialah
universal. Seorang ahli sosiologi, Selo
Soemardjan mendefinisikan globalisasi adalah terbentuknya negara organisasi dan
komunikasi antar masyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti negara dan kaidah-kaidah yang
sama. Sedangkan menurut R.
Robertson bahwa globalisasi adalah proses mengecilnya dunia dan
meningkatnya kesadaran akan dunia sebagai satu kesatuan, saling ketergantungan
dan kesadaran global akan dunia yang menyatu.
. Globalisasi
merupakan kecenderungan masyarakat untuk menyatu dengan dunia, terutama di
bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan media komunikasi massa. Selain itu,
para cendekiawan Barat mengatakan bahwa globalisasi merupakan suatu proses
kehidupan yang serba luas, tidak terbatas, dan merangkum segala aspek
kehidupan, seperti politik, negara,
dan ekonomi yang dapat dinikmati oleh seluruh umat manusia di dunia. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan kecuali
sekedar definisi kerja (working definition) sehingga bergantung dari sisi mana
orang melihatnya. Theodore Levitte merupakan orang pertama yang menggunakan
istilah globalisasi pada tahun 1985.
2.1.1. Proses Globalisasi
Globalisasi
pada hakikatnya adalah proses yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan yang
dampaknya berkelanjutan melampaui batas-batas kebangsaan dan kenegaraan.
Mengingat bahwa dunia ditandai oleh kemajemukan (pluralitas) budaya maka
globalisasi sebagai proses juga
ditandai sebagai suatu peristiwa yang terjadi di seluruh dunia secara lintas
budaya yang sekaligus mewujudkan proses saling mempengaruhi antarbudaya.
Pertemuan antarbudaya itu tidak selalu berlangsung sebagai proses dua arah yang
berimbang, tetapi dapat juga sebagai proses dominasi budaya yang satu terhadap
lainnya. Misalnya pengaruh budaya Barat lebih kuat terhadap budaya di negara Timur.
Globalisasi dapat berkembang dengan cepat, hal ini
tentunya dipengaruhi oleh adanya kecepatan dan kemudahan dalam memperoleh akses
komunikasi dan berita namun hal ini justru menjadi bumerang tersendiri dan
menjadi suatu masalah yang paling krusial atau penting dalam globalisasi, yaitu
kenyataan bahwa perkembangan ilmu pengertahuan dikuasai oleh negara-negara
maju, bukan negara-negara berkembang seperti Indonesia. Komunikasi dan
transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap
bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan
menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh
2.1.2. Ciri-Ciri Globalisasi
Berikut ini
beberapa ciri yang menandakan berkembangnya fenomena globalisasi di dunia :
·
Perubahan dalam konstatin ruang dan waktu. Perkembangan
barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet
menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui
pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari
budaya yang berbeda.
·
Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda
menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan
internasional, peningkatan perusahaan perusahaan multinasional, dan dominasi
organisasi semacam World Trade Organization.
·
Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media
massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olahraga
internasional). Saat ini, kita dapat mengkonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman
baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam
bidang fashion, literatur, dan makanan.
2.3.
Pengertian Budaya
Budaya atau
kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang
merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan
sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa
Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari
kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa
diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga
kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.
Menurut E. B. Tylor dalam buku “Primitif Culture”, mendefinisikan bahwa
kebudayaaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung ilmu
pengetahuan yang lain serta kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota
masyarakat. R. Linton dalam buku “The Cultural Background of Personality’
menyatakan bahwa kebudayaan adalah konfigurasi dari tingkah laku dan hasil
laku, yang unsur-unsur pembentukannya didukung serta diteruskan oleh anggota
masyarakat tertentu.
Jadi
budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah
kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari
banyak unsur rumit termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa,
perkakas, pakaian dan karya seni. Sebagaimana juga budaya merupakan bagian tak
terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya
diwariskan secara genetis.
2.2.1.
Faktor Pembentuk
Budaya Bangsa
Pada saat diciptakan, manusia telah dilengkapi dengan empat
fitrah (dorongan) yang menjadi potensi bagi pembentukan
budaya.Dari keempat dorongan itu manusia
mampu menciptakan budaya sebagai bentuk nyata dari cipta, rasa, dan karsa. Dorongan-dorongan itu ialah:
- Dorongan Naluri
Sejak dilahirkan, manusia telah
menampakkan gejala-gejala sebagai pertanda bahwa dia adalah makhluk berbudaya,
antara lain terlihat pada saat lapar ataupun haus manusia mencari sumber pemenuh
kebutuhan tersebut. Gejala yang disebut juga dengan instinct
Inilah yang mendasari
penciptaan budaya, meskipun dalam bentuk prima.
- Dorongan Indrawi.
Manusia diberi kemampuan menerima rangsangan dengan perantaraan panca inderanya.
Dengan potensi itu manusia dapat menjaga kelangsungan hidupnya, melindungi dirinya
dari bahaya yang mangancam, memenuhi kebutuhan minum, makan, bertempat tinggal,
dan memenuhi kepuasan-kepuasan untuk dirinya.
- Dorongan Akal
Dengan potensi berfikir daya
khayalnya, manusia mampu melakukan apreseasi (apperception), dan
menyalurkan apresiasinya itu melalui cipta, rasa, dan karsa.
- Dorongan Religi
Karena daya pemikiran manusia tidak
dapat menjangkau apa yang terdapat di balik alam maya pada, maka perlu
disambung dengan nilai-nilai yang terkandung dalam agama. Dengan bimbingan ini manusia dapat
mengetahui apa yang semestinya dilakukan, sehingga budaya yang diciptakan dapat
berguna baik bagi dirinya, makhluk sesamanya, ataupun makhluk-akhluk yang lain
2.2.2.
Proses
Terbentuknya Budaya Bangsa
Konsep-konsep kebudayaan bangsa mengandung nilai-nilai luhur
dalam bentuk berbentuk petuah, nasehat, wejangan, peraturan, perintah dan
semacamnya yang diwariskan secara turun temurun melalui kebiasaan ataupun adat istiadat tentang
bagaimana manusia harus hidup secara baik agar ia benar-benar menjadi manusia yang
baik dan menghindari perilaku-perilaku yang tidak baik.
Di masa lalu, kebudayaan bangsa
digambarkan sebagai “puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh
Indonesia”. Namun selanjutnya, kebudayaan nasional Indonesia perlu diisi oleh
nilai-nilai dan norma-norma nasional sebagai pedoman bagi kehidupan berbangsa
dan bernegara di antaram
seluruh rakyat Indonesia. Termasuk di dalamnya adalah nilai-nilai yang menjaga
kedaulatan negara dan integritas teritorial yang menyiratkan kecintaan dan
kebanggaan terhadap tanah air, serta kelestariannya, nilai-nilai tentang
kebersamaan, saling menghormati, saling mencintai dan saling menolong antar
sesama warga negara, untuk
bersama-sama menjaga kedaulatan dan martabat bangsa.
Secara internal manusia dan
masyarakat memiliki intuisi dan aspirasi untuk mencapai kemajuan. Secara
internal, pengaruh dari luar selalu mendorong masyarakat, yang dinilai statis
sekali pun, untuk bereaksi terhadap rangsangan-rangsangan dari lingkungannya.
Rangsangan besar dari lingkungan pada saat ini datang dari media masa, melalui
pemberitaan maupun pembentukan opini. Pengaruh internal dan khususnya eksternal
ini merupakan faktor strategis bagi terbentuknya suatu kebudayaan nasional.
Sistem dan media komunikasi menjadi sarana strategis yang dapat diberi peran
strategis pula untuk memupuk identitas nasional dan kesadaran nasional.
2.3.
Pengaruh Globalisasi
Globalisasi
layaknya seperti keping uang logam, yang memiliki 2 sisi yang sangat bertolak
belakang satu sama lain. Globalisasi disatu sisi memberikan pengaruh positif dan disisi lain
memberikan pengaruh
negatif.
a) Pengaruh Positif Globalisasi Terhadap Masyarakat
·
Dilihat dari aspek globalisasi
politik, pemerintahan dijalankan secara terbuka dan demokratis, karena
pemerintahan adalah bagian dari suatu negara.
·
Dari aspek globalisasi ekonomi,
terbukanya pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja yang banyak dan
meningkatkan devisa suatu negara.
·
Dari aspek globalisasi sosial
budaya, kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang
tinggi dan disiplin serta Iptek dari negara lain yang sudah maju untuk
meningkatkan kedisplinan bangsa yang pada akhirnya memajukan bangsa serta akan
mempertebal jati diri kita terhadap bangsa. Serta kita juga dapat bertukar ilmu
pengetahuan tentang budaya suatu bangsa.
b)
Pengaruh Negatif Globalisasi Terhadap Masyarakat.
·
Aspek politik, Globalisasi mampu
meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan
kemakmuran.
·
Aspek Globalisasi ekonomi,
hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar
negeri (mainan, minuman, makanan, pakaian) membanjiri Indonesia.
·
Masyarakat kita khususnya anak
muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia dimana
dilihat dari sopan santun mereka yang mulai berani kepada orang tua, hidup
metal, hidup bebas.
·
Mengakibatkan adanya kesenjangan
sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas
dalam globalisasi ekonomi.
·
Munculnya sikap individualisme
yang menimbulkan ketidakpedulian sesama warga.
Dampak di atas akan
perlahan-lahan mempengaruhi kehidupan bangsa Indonesia, akan tetapi secara
keseluruhan aspek dapat menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa menjadi
berkurang atau luntur. Sebab globalisasi mampu membuka cakrawala masyarakat
secara global.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1.
Pengaruh Globalisasi Terhadap Budaya Bangsa
Masyarakat
Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk dalam berbagai hal, seperti keanekaragaman budaya,
lingkungan alam, dan wilayah geografisnya. Keanekaragaman masyarakat
Indonesia ini dapat dicerminkan pula dalam berbagai ekspresi keseniannya.
Dengan perkataan lain, dapat dikatakan pula bahwa berbagai kelompok masyarakat
di Indonesia dapat mengembangkan keseniannya yang sangat khas. Kesenian
yang dikembangkannya itu menjadi model-model pengetahuan dalam masyarakat.
Arus
globalisasi saat ini telah menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan budaya
bangsa Indonesia . Derasnya arus informasi dan telekomunikasi ternyata
menimbulkan sebuah kecenderungan yang mengarah terhadap memudarnya nilai-nilai
pelestarian budaya. Perkembangan 3T (Transportasi, Telekomunikasi, dan
Teknologi) mengkibatkan berkurangnya keinginan untuk melestarikan budaya negeri
sendiri .
Budaya
Indonesia yang dulunya ramah-tamah, gotong royong dan sopan berganti dengan
budaya barat, misalnya pergaulan bebas. Di Jawa Barat
misalnya, dua puluh tahun yang lalu,
anak-anak remajanya masih banyak yang berminat untuk belajar tari Jaipong dan dan gamelan. Saat
ini, ketika teknologi semakin maju, ironisnya kebudayaan-kebudayaan daerah
tersebut semakin lenyap di masyarakat, hanya golongan generasi tua yang masih senantiasa
melestarikannya.
Padahal
kebudayaan-kebudayaan daerah tersebut, bila dikelola dengan baik selain dapat
menjadi pariwisata budaya yang menghasilkan pendapatan untuk pemerintah baik
pusat maupun daerah, juga dapat menjadi lahan pekerjaan yang menjanjikan bagi
masyarakat sekitarnya.
Hal lain yang merupakan pengaruh globalisasi adalah
dalam pemakaian bahasa indonesia yang baik dan benar (bahasa juga salah satu
budaya bangsa).Sudah lazim di Indonesia untuk menyebut orang kedua tunggal
dengan Bapak, Ibu, Pak, Bu, Saudara, Anda dibandingkan dengan kau atau kamu
sebagai pertimbangan nilai rasa. Sekarang ada kecenderungan di kalangan anak
muda yang lebih suka menggunakan bahasa Indonesia dialek Jakarta seperti
penyebutan kata gue (saya) dan lu (kamu), Jawa seperti penyebutan aku (saya)
dan nggak (tidak), Papua trada (Tidak ada), sa (saya), ko (kamu) . Selain itu
kita sering dengar anak muda mengunakan bahasa Indonesia dengan dicampur-campur
bahasa inggris seperti OK, No problem dan Yes’, bahkan kata-kata makian
(umpatan) sekalipun yang sering kita dengar di film-film barat, sering
diucapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3.2.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Budaya Bangsa
Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya
nilai-nilai dan budaya tertentu ke seluruh dunia sehingga menjadi budaya dunia (world
culture) telah terjadi semenjak lama. Namun perkembangan Globalisasi kebudayaan
secara intensif terjadi pada awal ke-20. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor
seperti berikut :
·
Teknologi komunikasi
Kontak melalui media menggantikan kontak fisik sebagai sarana utama
komunikasi antar bangsa. Perubahan tersebut menjadikan komunikasi antar bangsa
lebih mudah dilakukan, hal ini menyebabkan semakin cepatnya perkembangan
globalisasi kebudayaan.
·
Berkembangnya turisme dan
pariwisata
Meningkatnya pariwisata di Indonesia menyebabkan banyak turis yang datang
ke Indonesia. Tak jarang turis-turis ini membawa budaya asli dari daerah
asalnya berkembang di Indonesia.
·
Banyaknya migrasi
Perpindahan penduduk suatu negara ke negara lain. Ikut membawa budaya baru
di tempat yang dimasukinya.
·
Banyaknya event-event berskala
global
Event-event berskala global seperti piala dunia menciptakan kebudayaan di
seluruh dunia. Dimana masyarakat dunia dapat mengikuti kebudayaan yang ada di negara
penyelenggara event tersebut.
·
Media massa
Media massa membawa perspektif baru tentang budaya global. Banyak budaya
baru yang berasal dari luar dimuat di media massa. Hal ini semakin mempermudah
penyebaran globalisasi kebudayaan.
Faktor-faktor tersebut membuat globalisasi
kebudayaan berkembang dengan begitu cepat. Hal ini menjadi suatu masalah
krusial bagi budaya bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah pada
globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara
menyeluruh. Globalisasi dalam bentuk yang alami akan meninggikan berbagai budaya
dan nilai-nilai budaya bangsa.
Proses
saling mempengaruhi adalah gejala yang wajar dalam interaksi antar
masyarakat. Melalui interaksi dengan berbagai masyarakat lain, bangsa
Indonesia ataupun kelompok-kelompok masyarakat yang mendiami nusantara (sebelum
Indonesia terbentuk) telah mengalami proses dipengaruhi dan mempengaruhi.
Kemampuan berubah merupakan sifat yang penting dalam kebudayaan manusia. Tanpa
itu kebudayaan tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang senantiasa
berubah.
3.3.
Upaya Untuk Mengatasi Pengaruh Globalisasi Terhadap
Budaya Bangsa
Adanya
arus globalisasi memunculkan masalah pada generasi muda. Generasi muda
merupakan pewaris kebudayaan maupun berkewajiban mempertahankan jati diri
bangsa, tetapi pada faktanya sekarang ini banyak generasi muda merasa asing di
negeri sendiri. Oleh karena itu upaya mencegah memudarnya budaya dan jati diri
bangsa perlu dilakukan baik oleh pemerintah, pihak swasta maupun secara penuh
kesadaran oleh masyarakat itu sendiri.
Beberapa
upaya yang dapat dilakukan antara lain:
- Melakukan reorientasi budaya (culture reorientation), yaitu aktivitas menengok kembali keberadaan budaya sebagai langkah awal untuk memperkenalkan budaya sendiri kepada generasi baru yang belum memahami nama, fungsi dan asalusul suatu subkebudayaan
- Melakukan revitalisasi budaya, yaitu upaya perombakan dan penyesuaian sedemikian rupa sehingga unsur-unsur budaya tersebut menjadi penting kembali
- Melakukan refungsionalisasi budaya, yaitu membuat suatu budaya mengakar dan berfungsi bagi keperluan sehari-hari masyarakat
- Mengupayakan pelembagaan budaya
- Melakukan implementasi budaya
Peran kebijaksanaan pemerintah
yang lebih mengarah kepada pertimbangan-pertimbangan ekonomi daripada budaya
dapat dikatakan merugikan suatu perkembangan kebudayaan. Jennifer Lindsay
(1995) dalam bukunya yang berjudul Cultural
Policy And The Performing Arts In South-East Asia mengungkapkan kebijakan
kultural di Asia Tenggara saat ini secara efektif mengubah dan merusak
seni-seni pertunjukan tradisional, baik melalui campur tangan, penanganan yang
berlebihan, kebijakan-kebijakan tanpa arah, dan tidak ada perhatian yang
diberikan pemerintah kepada kebijakan kultural atau konteks kultural.
Dengan demikian, kesenian rakyat
semakin lama tidak dapat mempunyai ruang yang cukup memadai untuk perkembangan
secara alami atau natural, karena itu, secara tidak langsung kesenian rakyat
akhirnya menjadi sangat tergantung oleh model-model pembangunan yang cenderung
lebih modern dan rasional. Sebagai contoh dari permasalahan ini dapat kita
lihat, misalnya kesenian asli daerah sudah diatur dan disesuaikan oleh aparat
pemerintah untuk memenuhi tuntutan dan tujuan kebijakan-kebijakan politik
pemerintah.Aparat pemerintah di sini turut mengatur secara normatif, sehingga
kesenian daerah tersebut tidak lagi terlihat keasliannya dan cenderung dapat
membosankan.
Globalisasi mempunyai dampak yang
besar terhadap budaya. Kontak budaya melalui media massa menyadarkan dan
memberikan informasi tentang keberadaan nilai-nilai budaya lain yang berbeda
dari yang dimiliki dan dikenal selama ini. Kontak budaya ini memberikan masukan
yang penting bagi perubahan-perubahan dan pengembangan-pengembangan nilai-nilai
dan persepsi dikalangan masyarakat yang terlibat dalam proses ini. Kesenian
bangsa Indonesia yang memiliki kekuatan etnis dari berbagai macam daerah juga
tidak dapat lepas dari pengaruh kontak budaya ini.Sehingga untuk melakukan
penyesuaian-penyesuaian terhadap perubahan-perubahan diperlukan
pengembangan-pengembangan yang bersifat global namun tetap bercirikan kekuatan
lokal atau etnis.
BAB IV
PENUTUP
4.1.
Simpulan
Pengaruh
globalisasi disatu sisi ternyata menimbulkan pengaruh yang negatif bagi
kebudayaan bangsa Indonesia . Norma-norma yang terkandung dalam kebudayaan
bangsa Indonesia perlahan-lahan mulai pudar. Gencarnya serbuan teknologi
disertai nilai-nilai interinsik yang diberlakukan di dalamnya, telah
menimbulkan isu mengenai globalisasi dan pada akhirnya menimbulkan nilai baru
tentang kesatuan dunia. Entah
suka atau tidak, Timur dan Barat telah menyatu dan tidak pernah lagi terpisah,
Artinya adalah bahwa antara barat dan timur tidak ada lagi perbedaan. Atau
dengan kata lain kebudayaan kita dilebur dengan kebudayaan asing. Apabila timur
dan barat bersatu, masihkah ada ciri khas kebudayaan kita? Ataukah kita larut
dalam budaya bangsa lain tanpa meninggalkan sedikitpun sistem nilai kita? Oleh
karena itu perlu dipertahanan aspek sosial budaya Indonesia sebagai identitas
bangsa. Caranya adalah dengan penyaringan budaya yang masuk ke Indonesia dan
pelestarian budaya bangsa.
4.2. Saran
a) Masyarakat
perlu berperan aktif dalam pelestarian budaya daerah masing-masing khususnya
dan budaya bangsa pada umumnya.
b) Masyarakat
perlu menyeleksi kemunculan globalisasi kebudayaan baru, sehingga budaya yang
masuk tidak merugikan dan berdampak negative.
c) Masyarakat
harus berati-hati dalam meniru atau menerima kebudayaan baru, sehingga pengaruh
globalisasi di negara kita tidak terlalu berpengaruh pada kebudayaan yang
merupakan jati diri bangsa kita
DAFTAR
PUSTAKA
Anik Sholifah,
S.Pd. Akurat Modul Ilmu Pengetahuan
Sosial. Klaten : Grafika Dua Tujuh
Fuad Hassan. “Pokok-pokok Bahasan
Mengenai Budaya Nusantara Indonesia”. Dalam kongres budpar
wikipedia/globalisasi
Merah putih indonesia
“terancamnya kebudayaan indonesia di era
globalisasi”
Komentar
Posting Komentar