Review Always Be In Your Heart



ALWAYS BE IN YOUR HEART


 


Penulis             : Shabrina WS
Desain Sampul : Agung Wulandana
Penerbit           : Qanita
ISBN               : 978-602-9225-77-8
Cetakan I, Februari 2013

Marsela
Aku Selalu menantimu dari matahari di timur, matahari di barat, hingga terbit lagi. Aku telah melewati musim yang berganti berulang kali. Tapi, kau tak pernah hadir di sini. Kini setelah sepuluh tahun kulewati, aku tak yakin lagi, bahkan pada diriku sendiri.
Juanito
Siapakah kita, ketika pada akhirnya sejarah telah bicara. Bahkan, sungai bisa saja berubah muara, sekuat apapun aku bertahan, sepuluh tahuntelah mengubah banyak ha. Dan nyatanya, keadaan memang tak lagi sama.
Always be in your heart adalah pemenang ketiga lomba penulisan romance Qanita. Novel ini mengambil setting di daerah timor timur yang sekarang memisahkan diri dari Indonesia. Prolog di awali dengan sudut pandang seekor anjing bernama Lon. Dan di bagian epilog dari sudut pandang anjing bernama Royo.Marsela dan Juanito adalah sahabat sejak kecil. Rumah mereka bersebelahan dengan halaman yang menyatu. Ibu Marsela sudah meninggak saat Marsela masih kecil, karena itulah ia menganggap Tiu Tika, ibunya Juanito seperti ibunya sendiri. Sejak SD Juaniti selalu menjaga Marsela, dia selalu protektif dan selalu menginginkan Marsela satu sekolah dengannya.
Hingga saat Marsela akan kuliah Juanito melamarnya, agar ia bisa selalu menjaganya. Keluarga mereka sudah merencanakan pernikahan. Hingga terjadilah konflik saat timor-timur memisahkan diri dari Indonesia. Keluarga Marsela dan keluarga Juanito memilih jalan yang berbeda. Kecintaan ayah Marsela terhadap Indonesia membuat Marsela harus meninggalkan Ermera. Dan mengungsi ke daerah barat. Sementara keluarga Juanito memutuskan untuk tetap tinggal di Ermera. Sejak saat itulah mereka berpisah.
Sepuluh tahun sudah Marsela menetap di Tenukiik bersama ayahnya dan Lon. Anjing pemberian Juanito. Ia bekerja sebagai buruh pemecah batu. Saat ayahnya meninggal, Randulah yang menjaganya. Yoanika sahabatnya sering menggodanya bahwa Randu memiliki perasaan lebih. Namun ia masih belum bisa membuka hatinya untuk orang lain. Masih menunggu Juanito untuk menjemputnya. Selama sepuluh tahun Juanito tak kunjung datang hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke Ermera. Dengan ditemani Randu ia kembali ke tempat dimana dulu ia tinggal. Rumah Marsela dan Juanito sudah rata dengan tanah. Disanalah ia bertemu dengan tiu Tika. Mereka bicara bercerita satu sama lain. Saat itulah Marsela tahu alasan mengapa Juanito tak pernah menjemputnya.
Novel dengan tebal 236 halaman ini selesai aku baca dalam sehari. Sebetulnya latar belakang cerita ini cukup menarik tentang sejarah pemisahan Tim-Tim dari Indonesia. Hanya saja latar tersebut terasa kurang tergali. Cukup terkejut juga saat tahu alasan Juanito tidak menjemput Marsela. Aku terkagum-kagum dengan Randu yang begitu baiknya pada Marsela. Ia memberikan pekerjaan baru, tempat tinggal baru untuk Marsela. Dia sosok calon suami yang baik. Kadang aku merasa gemas sama sikap Marsela yang selalu menolak kebaikan Randu. Padahal Randu selalu bersikap sebaik mungkin pada Marsela. Menurutku bagian prolog dan epilognya yang sangat berkesan. Membuatku berempati dengan perasaan Lon dan Royo. Novel ini berbeda dengan novel romance kebanyakan. Tak ada kontak fisik antar tokoh utama. Menurutku ini jadi nilai plus. Aku suka dengan covernya terkesan kalem. Entah kenapa gereget dari novel ini kurang terasa. Ada satu puisi buatan Juanito untuk Marsela. Ini dia wujudnya
Di Tepi Sungai Gleno
Mencarimu, menuruni lembah Ermera
Dan berlari membelah kebun kopi
Aku melawan arah angin
Yang menampar-nampar sabana dan stepa
Yang menguning
Lalu, aku berdiri di sini, di tepi sungai Gleno
Menulis puisi tentang tanah kita
Tentang mimpiku,
Tentang mimpimu
Tentang kita
Tentang
Secangkir kopi Ermera
Dan rasa yang tersimpan

3 balon untuk secangkir kopi Ermera

Komentar

Postingan Populer